Open Jam 08.00 s/d 16.00. Sabtu - Minggu Libur
0857-7368-6069
0857-7368-6069
0857-7368-6069
DB60D4EC
( pcs)
GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0
Menu

Apa itu Skizofrenia, Penyebab dan Cara Pengobatannya

Ditulis Oleh Wish Dr Boyke produk wish produk asli dan resmi dr boyke dian nugraha

Penyakit mental kerap menjadi salah satu penyakit yang sering begitu saja terlewatkan dari amatan kita. Meski dampaknya sama besarnya dengan berbagai penyakit fisik lainnya, namun penyakit berbasis kesehatan mental sangat jarang mendapatkan perhatian. Salah satu penyakit yang memiliki tingkat berbahaya adalah penyakit Skizofrenia. Lantas, apa itu skizofrenia?

Definisi Pengertian Skizofrenia

Apa itu skizofrenia paranoid

Skizofrenia adalah penyakit mental yang memiliki tingkatan masalah yang serius yang biasanya mengganggu kemampuan seseorang untuk tetap berpikir jernih, mengelola emosi, membuat keputusan dan menjaga tata cara berkomunikasi dengan manusia lain. Penyakit ini adalah penyakit mental yang memiliki durasi jangka panjang yang sangat kompleks.

Seseorang yang mengidap skizofrenia umumnya tidak dapat membedakan mana khayalan dan mana yang kenyataan. Itulah sebabnya bagi masyarakat Indonesia kerapkali menyebut penyakit skizofrenia dengan “gila”. Penyakit skizofrenia juga bisa menyebabkan pengidapnya tidak mempunyai kemampuan untuk berpikir, untuk mengingat, maupun memahami masalah tertentu.

Melansir data WHO di tahun 2016 penyakit skizofrenia ini mempengaruhi sekitar 21 juta penduduk dunia. Meskipun mengetahui apa itu skizofrenia dan bagaimana gejalanya muncul, namun penyakit ini kerap datang tiba-tiba dan menyerang pada usia berapa pun baik muda maupun tua.

Menurut penelitian Skizofrenia menyerang manusia rata-rata cenderung berada pada rentangan umur remaja hingga awal 20-an untuk para pria, dan sementara kaum wanita biasanya memiliki masalah ini di rentangan umur periode 20-an hingga awal 30-an. Sangat jarang penyakit skizofrenia didiagnosis pada seseorang yang berusia kurang dari 12 tahun atau lebih dari 40 tahun.

Penyebab Timbulnya Skizofrenia

Jenis tes skizofrenia

Meski definisi medis tentang apa itu skizofrenia telah tertata dengan jelas, penyebab kemunculan skizofrenia masih belum menemui titik terang hingga saat ini. Beberapa riset telah dilakukan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, namun dunia kedokteran modern hanya masih bertahan pada ranah teori dalam mencari tahu penyebab penyakit ini. Beberapa diatanranya meliputi: genetika, biologis dan kemungkinan infeksi virus serta gangguan kekebalan tubuh.

Faktor Keturunan – Genetik

Para ilmuwan mengakui bahwa gangguan ini cenderung terjadi dalam keluarga dan bahwa seseorang dapat mewarisi kecenderungan untuk mengembangkan penyakit Skizofrenia. Mirip dengan beberapa penyakit terkait genetik lainnya, skizofrenia dapat muncul ketika tubuh mengalami perubahan hormon dan fisik seperti yang terjadi selama masa pubertas di masa remaja atau setelah berurusan dengan situasi yang sangat menekan secara mental.

Untuk itu para orang tua diharapkan dapat menjadi pelopor utama dalam mendukung anaknya pada masa-masa rentan ini dengan mengetahui seluk beluk tanda-tanda penyakit dan apa itu skizofrenia dalam realitanya. Tujuannya tentu agar anak-anak terhindar dari penyakit ini, karena penyakit ini bisa menganggu kehidupan bahkan masa depan si anak.

Faktor Biologis

Para peneliti percaya bahwa pasien dengan masalah skizofrenia memiliki ketidakseimbangan komposisi kimia didalam otaknya atau dalam sistem neurotransmiter seperti kekurangan atau kelebihan dopamin, glutamat dan serotonin.

Neurotransmitter ini memungkinkan sel-sel saraf di otak untuk saling mengirim pesan. Ketidakseimbangan bahan kimia ini akan mempengaruhi cara otak seseorang bereaksi terhadap rangsangan yang menjelaskan mengapa seseorang dengan skizofrenia mungkin akan kewalahan dengan berbagai tekanan pada ransangan sensorik seperti musik yang terlalu keras atau cahaya yang terlalu terang.

Ketimpangan ini kemudian dapat menjadi media untuk menarik garis tentang apa itu skizofrenia dalam kaitannya dengan faktor biologis. Masalah dalam memproses suara, pemandangan, bau, dan selera yang berbeda juga dapat menyebabkan halusinasi atau delusi.

Tidak berhenti disitu, faktor biologis juga menyentuh ranah struktur dimana beberapa penelitian menunjukkan bahwa masalah dengan pengembangan koneksi dan jalur di otak saat bayi berada di dalam rahim dapat kemudian menyebabkan timbulnya masalah skizofrenia ini.

Faktor Lingkungan – Infeksi Virus dan Gangguan Kekebalan Tubuh

Skizofrenia juga dapat dipicu oleh lingkungan, seperti infeksi virus atau gangguan pada sistem ketahanan tubuh. Misalnya, bayi yang ibunya terkena flu saat hamil berisiko lebih tinggi terkena skizofrenia di kemudian hari. Pasien yang dirawat di rumah sakit untuk masalah infeksi berat juga berisiko lebih tinggi untuk terdampak penyakit ini.

Faktor penyebab ini masih membutuhkan banyak riset yang lebih mendetil untuk membuka paradigma baru tentang apa itu skizofrenia sebenarnya. Namun pada tahap ini, faktor lingkungan telah secara medis dianggap sebagai salah satu yang memilki potensi untuk menjadi penyebab munculnya penyakit scizofrenia ini.

Gejala Penderita Skizofrenia

Skizofrenia adalah pdf

Sebagian besar penderita skizofrenia akan bergantung secara finansial pada orang lain, karena pengidap penyakit mental ini biasanya tidak dapat memiliki pekerjaan atau menjaga perawatan untuk diri mereka sendiri. Namun pada kasus yang lain, beberapa pasien yang bahkan telah divonis menderita dan mengetahui apa itu skizofrenia secara detail masih mungkin untuk menolak skema perawatan, dengan alasan tidak ada yang salah dengan kehidupan mereka.

Dalam realitanya, beberapa pasien mungkin akan menunjukkan gejala yang jelas dalam tanda-tandanya, tetapi pada kesempatan lain, gejala ini mungkin tidak tampak terlalu gamblang sampai pasien mulai menjelaskan apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Efek dari skizofrenia dalam menjangkau melampaui pasien dan kerap berdampak pada keluarga, teman, dan masyarakat sekitar.

Oleh karena itu, perlu peran proaktif dari semua pihak untuk mengetahui dengan pasti apa itu skizofrenia, gejala dan tanda-tandanya yang notabene akan sangat tervariasi bergantung pada individu. Gejala-gejala penderita skizofrenia dapa diklasifikasikan menjadi empat kategori:

  1. Gejala positif atau juga dikenal sebagai gejala psikotik. Misalnya adalah timbulnya delusi dan halusinasi.
  2. Gejala negatif merujuk pada elemen yang diambil dari individu. Misalnya, tidak adanya ekspresi pada wajah atau kurangnya motivasi.
  3. Gejala kognitif lebih kepada mempengaruhi proses berpikir pasien. Penderita skizofrenia mungkin akan menderita gejala positif atau negatif, misalnya, konsentrasi yang buruk adalah salah satu gejala negatif.
  4. Gejala emosional ini biasanya adalah gejala negatif, seperti emosi yang tidak termantik oleh apapun.

Berikut ini adalah beberapa daftar gejala-gejala utama penyakit skizofrenia:

  • Delusi: pasien mempercayai sebuah bentuk keyakinan yang absurd dan salah secara logika. Bentuk kepercayaan ini dapat mengambil banyak bentuk, seperti delusi tentang keagungan dan status. Pasien mungkin merasa orang lain berusaha mengendalikan mereka dari jarak jauh atau, mereka mungkin berpikir mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang luar biasa.
  • Halusinasi: dalam kasus ini, mendengar suara-suara aneh jauh lebih umum ketimbang melihat, merasakan, atau mencium hal-hal yang tidak jelas eksistensinya. namun, pasien dengan skizofrenia mungkin akan mengalami berbagai macam halusinasi dalam satu waktu.
  • Gangguan pikiran: pengidap skizofrenia dapat melompat dari satu subjek ke subjek lain tanpa alasan yang logis.
  • Kurangnya motivasi: pasien kehilangan dorongan untuk hidup dan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan tindakan higienis sebagai manusia. Tindakan sehari-hari, seperti mencuci dan memasak, bahkan mandi kerap diabaikan.
  • Ekspresi emosi yang buruk: respons terhadap peristiwa bahagia atau sedih mungkin akan terlihat kurang atau tidak tepat.
  • Menjauh dari lingkungan sosial: ketika seorang pasien dengan skizofrenia menarik diri secara sosial, seringkali karena mereka percaya seseorang akan membahayakan hidup mereka.
  • Ketidaksadaran akan kondisi: karena halusinasi dan delusi tampak begitu nyata bagi pasien pengidap skizofrenia, banyak dari mereka mungkin tidak percaya bahwa mereka sedang sakit. Para pasien skizofrenia mungkin menolak untuk minum obat karena takut akan efek samping, atau diracuni, misalnya.
  • Masalah kognitif: kemampuan pasien untuk berkonsentrasi, mengingat hal-hal penting dan reguler, merencanakan sebuah rencana ke depan, dan mengatur kehidupan dapat berubah secara frontal dan menjadi sulit diinterpretasikan.

Pilihan Perawatan untuk Pengidap Skizofrenia

Skizofrenia mungkin bukanlah penyakit mental nomor satu di dunia saat ini dan dengan batas-batas yang jelas tentang definisi apa itu skizofrenia sebenarnya, pilihan opsi perawatan atau terapi penyembuhan skizofrenia pun semakin banyak bermunculan dengan semakin berkembangnya dunia kedokteran modern.

Kini, dengan perawatan yang tepat, pasien pengidap skizofrenia dapat menjalani kehidupan yang jauh lebih produktif dan terencana ketimbang pasien-pasien penyakit ini di masa lalu. Skema perawatan yang komplek ini dipercaya dapat membantu meringankan banyak gejala dari skizofrenia.

Namun, pada akhirnya sebagian besar pasien dengan gangguan mental ini harus terus berjuang seumur hidup mereka untuk melawan gejala-gejala dari penyaki ini. Seperti yang telah kami jelaskan tadi, pola pengobatan yang paling efektif bagi pasien skizofrenia biasanya terdiri kombinasi dari:

  • Obat-obatan
  • Konseling psikologi
  • Keinginan pasien untuk sembuh

Selain faktor mental dengan konseling, perkembangan obat anti-psikosis telah mengubah wajah skizofrenia secara keseluruhan. Berkat penemuan obat ini, sebagian besar pasien pengidap skizofrenia kini dapat kembali tinggal di komunitas asli mereka, ketimbang harus dikondisikan untuk tinggal di rumah sakit. Beberapa jenis obat skizofrenia yang paling umum adalah:

  • Risperidone: obat ini memiliki efek sedasi yang lebih rendah daripada antipsikotik atipikal lainnya. Peningkatan berat badan dan diabetes adalah efek samping yang mungkin terjadi, tetapi kemungkinannya masih kecil.
  • Olanzapine: obat ini juga dapat memperbaiki gejala negatif. Namun, risiko kenaikan berat badan yang serius dan perkembangan diabetes berdampak sangat signifikan.
  • Quetiapine; penggunaan obat ini berrisiko pada potensi kenaikan berat badan dan diabetes, namun risikonya jauh lebih rendah daripada pengguan Clozapine atau Olanzapine.
  • Ziprasidone: meski potensi risiko kenaikan berat badan dan diabetes lebih rendah daripada obat antipsikotik atipikal lainnya. Namun obat ini telah secara langsung berkontribusi pada kemunculan masalh aritmia jantung.
  • Clozapine: salah satu obat yanng paling efektif untuk pasien yang resisten terhadap pengobatan lain. Obat ini diketahui dapat menurunkan perilaku keinginan untuk bunuh diri pada pasien dengan skizofrenia. Namun disisi lain, Risiko kenaikan berat badan dan diabetes sangat signifikan.
  • Haloperidol : obat antipsikotik yang digunakan untuk mengobati skizofrenia ini memiliki efek dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Kunci utama dalam terapi perawatan untuk pasien skizofrenia adalah pengobatan. Sayangnya, tingkat kepatuhan untuk mengonsumsi rejimen pengobatan adalah masalah utama dari para pasien pengidap skizofrenia. Pasien dengan masalah ini sering melupakan untuk mengonsumsi pengobatan untuk waktu yang lama yang akibatnya berdampak pada diri mereka dan juga orang-orang di sekitarnya. Pasien harus terus meminum obat yang telah diresepkan bahkan ketika gejalanya telah hilang. Jika tidak, potensi kambuh akan sangat mudah untuk kembali.

Pertama kalinya seseorang mengalami gejala skizofrenia, pengalamannya akan sangat tidak menyenangkan. Mereka mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih kembali, dan masa pemulihan itu bisa menjadi periode yang sangat merusak dan kerap menekan mental. Dukungan dan peran keluarga akan sangat krusial masalah ini muncul untuk pertama kalinya. Tanpanya, akan sulit bagi pasien penderita skizofrenia untuk dapat keluar dari masalah mereka.

Diagnosis Pasien Skizofrenia

Terapi skizofrenia

Proses definitif dari apa itu skizofrenia telah memberikan batasan yang jelas dalam proses diagnosa pasien yang menderita penyakit ini. Diagnosis skizofrenia dicapai dengan mengamati tingkah-polah pasien. Jika dokter mencurigai adanya potensi skizofrenia, mereka juga perlu tahu tentang riwayat medis dan psikiatris pasien. Tes tertentu akan dibutuhkan untuk mengeliminasi kemungkinan penyakit dan kondisi lain yang dapat memicu gejala yang mirip dengan skizofrenia. Tes-tersebut diantaranya adalah:

  • Tes darah dilakukan dalam kasus-kasus di mana penggunaan narkoba menjadi faktor utama. Tes darah ini juga dilakukan untuk mengecualikan penyebab fisik dari penyakit lain.
  • Studi pencitraan digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan potensi masalah tumor dan struktur otak.
  • Evaluasi psikologis akan membutuhkan penilaian seorang spesialis dalam hal kondisi mental pasien dengan bertanya tentang pikiran, suasana hati, halusinasi, kecenderungan dan potensi kekerasan, serta juga mengamati perilaku dan penampilan mereka.

Kriteria Diagnosis Skizofrenia

Dalam menentukan kondisi pasien yang mengidap skizofrenia, dokter harus lebih dulu memastikan bahwa calon pasien telah memenuhi kriteria yang diuraikan dalam dalam manual diagnostik dan statistik gangguan mental. Cara manual ini biasanya yang digunakan oleh para profesional kesehatan untuk mendiagnosis penyakit dan kondisi mental.

Dalam prosesnya Dokter perlu mengeliminasi kemungkinan gangguan kesehatan mental lainnya, seperti bipolar atau skizoafektif yang memiliki gejala yang dari luar tampak sama dengan skizofrenia. Akan penting juga untuk memastikan bahwa tanda-tanda dan gejala itu tidak disebabkan oleh, misalnya kesalahan konsumsi obat secara menahun atau penyalahgunaan zat-zat adiktif lainnya.

Dalam penentuan kriteria diagnosis, pasien harus meiliki setidaknya dua dari gejala berikut ini:

  • Delusi
  • Perilaku yang tidak teratur atau katatonik
  • Ucapan yang tidak teratur
  • Halusinasi
  • Mengalami gangguan yang cukup besar dalam kemampuan untuk bersosialisasi, melaksanakan tugas pekerjaan, atau melaksanakan tugas sehari-hari.
  • Mengidap beberapa gejala diatas selama 6 bulan atau lebih.

Penemuan Terbaru dalam Teknik Diagnosis Skizofrenia

Meski definisi tentang apa itu skizofrenia telah secara universal diakui, kemungkinan mendiagnosis penyakit skizofrenia dan gangguan kejiwaan lainnya dengan tepat dalam kunjungan pertama ke dokter masih sangat kecil. Sebanyak 70% dari pasien psikiatris pertama kali menderita berbagai gangguan seperti depresi dan skizofrenia, didiagnosis secara keliru.

Proses ini kemudian menjadi masalah besar meskipun sebenarnya sangat dapat dimengerti karena gejala yang tumpang tindih dengan banyak penyakit mental lainnya. Namun belakangan ini, sebuah paten baru yang ditulis oleh profesor fisiologi asal Universitas Queensland, John Pettigrew, menunjukkan bahwa tingkat akurasi dalam diagnosisi ini mungkin akan dapat meningkat lebih tinggi.

Gagasan di balik temuan ini berkaitan dengan respons calon pasien terhadap rangsangan visual. Jadi, jika stimulus visual yang berbeda disajikan untuk setiap mata, “otak akan beralih dari mempersepsikan satu gambar ke yang lain.”

Dalam kasus orang yang menderita skizofrenia, tingkat di mana otak beralih di antara gambar akan jauh lebih cepat daripada yang tidak menderita penyakit tersebut.Pettigrew dan timnya telah menggunakan konsep dasar ini ini untuk membuat gambar tertentu, yang mereka yakini dapat menguji ide tersebut.

Gambar mereka terdiri dari “dua bentuk slatted atau ‘kisi-kisi’ (yang) ditumpangkan untuk membentuk pola berbentuk berlian. Ketika kisi-kisi ini bergerak, responden dapat melihat pola berlian bergerak, atau bergerak relatif satu sama lain.” Paten yang dibuat oleh Pettigrew dan timnya adalah sebuah perangkat yang menggunakan gambar ini untuk menguji tingkat respondari calon pasien. Tingkat respon ini tidak hanya akan menentukan masalah gangguan kejiwaan yang ada, tetapi juga kecenderungannya.

pelanggan testimoni produkwish dr boyke

Langganan Artikel Via Email Tips Dr Boyke

Daftarkan Email Anda Untuk Mendapatkan Tips Kesehatan Terbaru dan Terupdate Secara Gratis Dari Wish Dr Boyke

New
Pro Acne Herbal Wish Dr Boyke

7%

Rp 140.000 150.000
New
Femmislim Dr Boyke Wish Herbal

20%

Rp 200.000 250.000
Best Seller
PROLQ Dr Boyke Produk Wish Kapsul Herbal Pria Dewasa

9%

Rp 200.000 220.000
Best Seller
Femi Herbs Dokter Boyke Wish Herbal Care

2%

Rp 230.000 235.000
Best Seller
Rp 200.000
Limited
Menoherbs Wish Dr Boyke Atasi Menopause

4%

Rp 320.000 335.000

Hubungi Kami

0857-7368-6069
0857-7368-6069
DB60D4EC
0857-7368-6069

Rekening Bank

2450620672 a/n Novi Tuimtihanah
1630001826174 a/n Novi Tuimtihanah
385401012177536 a/n Novi Tuimtihanah

Cara Pemesanan

Cara Pemesanan Produk Wish dr Boyke & Co

Temukan Kami di

Cara Order Produk Wish Dr Boyke & Co